DAMPAK BILA IBU TIDAK MENYUSUI
Tidak menyusui dapat memengaruhi pemulihan fisik dan kesehatan mental ibu setelah melahirkan.
Menyusui secara alami merangsang pelepasan hormon oksitosin yang membantu kontraksi rahim setelah persalinan.
Kontraksi rahim berperan penting dalam mempercepat kembalinya ukuran rahim ke kondisi sebelum hamil (involusi uterus).
Ibu yang tidak menyusui mengalami rangsangan oksitosin yang lebih rendah sehingga proses involusi uterus dapat berlangsung lebih lambat.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan postpartum yang berpotensi membahayakan kesehatan ibu apabila tidak ditangani dengan baik.
Menyusui membantu mengatur keseimbangan hormon prolaktin dan oksitosin dalam tubuh ibu setelah melahirkan.
Tidak menyusui dapat mengganggu proses adaptasi tubuh terhadap perubahan hormonal pascapersalinan.
Gangguan keseimbangan hormon ini dapat menyebabkan ibu lebih mudah merasa lelah dan mengalami pemulihan fisik yang lebih lambat.
Dalam jangka panjang, ibu yang tidak menyusui memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas dan gangguan metabolik.
Aktivitas menyusui memberikan efek menenangkan melalui pelepasan hormon oksitosin yang dikenal sebagai “hormon kasih sayang”.
Kontak kulit dan interaksi langsung saat menyusui membantu mempererat ikatan emosional antara ibu dan bayi.
Ibu yang tidak menyusui berisiko kehilangan manfaat psikologis tersebut sehingga lebih rentan mengalami stres, kecemasan, dan depresi postpartum.
Kurangnya ikatan emosional yang terbentuk selama menyusui dapat memengaruhi kesejahteraan mental ibu pada masa awal setelah melahirkan.
Tidak menyusui dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang, baik secara fisik maupun mental.
Menyusui berperan dalam menjaga stabilitas fisiologis tubuh ibu setelah persalinan.
Oleh karena itu, menyusui tidak hanya penting untuk kesehatan bayi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup ibu secara keseluruhan.
© Dekap Kasih.
